Cari Blog Ini

Jumat, 09 Desember 2011

Pilihan, Keputusan, dan Kejutan


Oleh Wina Maynurjanah


Hidup adalah Sebuah Pilihan, sepaket kalimat pendek itu agaknya sudah cukup populer dalam perjalanan kehidupan beberapa atau banyak orang, termasuk saya, kalimat itu mutlak berlaku pada runtutan kehidupan saya, saya sepakat dengan tiga kata tersebut karena totalitas saya dalam menjalani hidup tentunya dihadapkan dalam berbagai pilihan, dan tentunya berbagai pilihan itu tak semuanya menyenangkan atau menyedihkan, hal itu terlihat seimbang, namun terkait bagaimana saya menyikapi pilihan yang beraneka ragam tersebut, sebuah pertimbangan yang membuahkan keputusanpun harus segera diambil dan dilakukan karena hidup bukan untuk menunggu menurut saya mah.  Jadi spontanitas harus segera dilakukan karena saya, menurut saya pribadi adalah orang yang instan dan praktis, dan alhasil dengan memutuskan suatu pilihan dalam satu kondisi kadang menghasilkan beberapa kejutan instan pula.

Hal milih memilih terjadi juga pada sisi akademis yang saya tempuh dalam jurusan Sastra Inggris di Universitas Pasundan ini, pada tahun ketiga saya menjalani perkuiahan, lembaga jurusan menyediakan tiga konsentrasi untuk tingkat selanjutnya, yakni Pengajaran, Pariwisata dan Jurnalistik, tiga konsentrasi ini cukup membuat saya bingung, tapi deskripsi yang otak saya buat terhadap tiga konsentrasi itu membuahkan kesimpulan bahwa saya harus menjalani salah satunya, sejauh itu tetap bingung lalu saya tanya pada hati saya, dan jawabannya adalah Jurnalistik, ya, Jurnalistik, jika ada yang bertanya mengapa saya menyetujui kata hati saya untuk mengambil Jurnalistik, jawabannya adalah saya selalu mempercayai apapun kata hati saya, dan otak sayapun akhirnya ikut menyetujui pendapat hati hingga saya benar-benar memantapkan pilihan dan punya argumen yang cukup instan yang berasal dari argumentasi otak dan hati yang disalurkan melalui lisan maupun lisan yang tentunya untuk menjelaskan beberapa alasan saya memasuki kawasan Jurnalistik.
Jurnalistik bagi saya unik, itulah alasan pertama saya, unik karena mempunyai sisi sejarah yang antik, lalu alasan yang lain adalah saya ingin bereksplorasi dalam dunia sastra lewat jurnalistik, entah bagaimana caranya, itu terserah hidup yang akan menghidangkan pilihan-pilihan berikutnya pada saya yang pada akhirnya kejutan akan datang, lalu ada hal yang menarik dalam bidang jurnalistik, yaitu menuntut kita mengenal kondisi secara intens dan menuntut kita menjadi orang yang aktif dan kritis yang tentunya dengan wawasan luas dan kita kuasai, tidak hanya omong-omongan belaka, tapi ada implementasinya, yakni bukti, itu sekilas pandangan saya mengenai ajang pemantapan dan argumentasi saya dalam menjalani pilihan yang saya ambil dan putuskan, yaitu mengambil konsentrasi Jurnalistik dan rupanya saya menikmatinya, walaupun dengan bumbu-bumbu sedikit keluhan.
Itulah sebabnya saya mengikuti kata hati, kata hati tidak sesat karena ternyata saya menikmati konsentrasi Jurnalistik, ya, menikmati karena saya respek dan menggemari cara dosen-dosen Jurnalistik dalam mata kuliahnya, mulai dari cara yang sentai hingga serius, dari mulai wawasan dasar hingga mendalam, dan dari mulai hanya sekedar penjelasan hingga tugas yang menuras pikiran, tapi saya benar-benar menikmatinya, jika ada keluhan dlam menjalaninya, itu adalah sebatas bumbu asin atau pedas yang sewajarnya pada kondisi masakan, hampir mirip dengan kehidupan. Saya percaya bahwa konsep hidup yang saya jalani tidak seinstan yang saya pikirkan, begitu juga perjuangan saya untuk sebuah pencapaian dalam menjalani pilihan pada pengambilan keputusan konsentrasi Jurnalistik tidaklah mudah, proses pasti butuh waktu dan waktu lambat laun akan membuahkan hasil. Hasil yang tentunya kejutan!
Seperti kata Einstein: “Saya tidak pernah memikirkan masa depan, masa depan akan segera datang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar