Oleh Wina Maynurjanah
Hidup
adalah Sebuah Pilihan, sepaket kalimat pendek itu agaknya sudah cukup populer
dalam perjalanan kehidupan beberapa atau banyak orang, termasuk saya, kalimat
itu mutlak berlaku pada runtutan kehidupan saya, saya sepakat dengan tiga kata
tersebut karena totalitas saya dalam menjalani hidup tentunya dihadapkan dalam
berbagai pilihan, dan tentunya berbagai pilihan itu tak semuanya menyenangkan
atau menyedihkan, hal itu terlihat seimbang, namun terkait bagaimana saya
menyikapi pilihan yang beraneka ragam tersebut, sebuah pertimbangan yang
membuahkan keputusanpun harus segera diambil dan dilakukan karena hidup bukan
untuk menunggu menurut saya mah. Jadi spontanitas harus segera dilakukan
karena saya, menurut saya pribadi adalah orang yang instan dan praktis, dan
alhasil dengan memutuskan suatu pilihan dalam satu kondisi kadang menghasilkan
beberapa kejutan instan pula.
Hal milih memilih terjadi
juga pada sisi akademis yang saya tempuh dalam jurusan Sastra Inggris di
Universitas Pasundan ini, pada tahun ketiga saya menjalani perkuiahan, lembaga
jurusan menyediakan tiga konsentrasi untuk tingkat selanjutnya, yakni
Pengajaran, Pariwisata dan Jurnalistik, tiga konsentrasi ini cukup membuat saya
bingung, tapi deskripsi yang otak saya buat terhadap tiga konsentrasi itu
membuahkan kesimpulan bahwa saya harus menjalani salah satunya, sejauh itu
tetap bingung lalu saya tanya pada hati saya, dan jawabannya adalah
Jurnalistik, ya, Jurnalistik, jika ada yang bertanya mengapa saya menyetujui
kata hati saya untuk mengambil Jurnalistik, jawabannya adalah saya selalu
mempercayai apapun kata hati saya, dan otak sayapun akhirnya ikut menyetujui
pendapat hati hingga saya benar-benar memantapkan pilihan dan punya argumen
yang cukup instan yang berasal dari argumentasi otak dan hati yang disalurkan
melalui lisan maupun lisan yang tentunya untuk menjelaskan beberapa alasan saya
memasuki kawasan Jurnalistik.
Jurnalistik
bagi saya unik, itulah alasan pertama saya, unik karena mempunyai sisi sejarah
yang antik, lalu alasan yang lain adalah saya ingin bereksplorasi dalam dunia
sastra lewat jurnalistik, entah bagaimana caranya, itu terserah hidup yang akan
menghidangkan pilihan-pilihan berikutnya pada saya yang pada akhirnya kejutan
akan datang, lalu ada hal yang menarik dalam bidang jurnalistik, yaitu menuntut
kita mengenal kondisi secara intens dan menuntut kita menjadi orang yang aktif
dan kritis yang tentunya dengan wawasan luas dan kita kuasai, tidak hanya
omong-omongan belaka, tapi ada implementasinya, yakni bukti, itu sekilas
pandangan saya mengenai ajang pemantapan dan argumentasi saya dalam menjalani
pilihan yang saya ambil dan putuskan, yaitu mengambil konsentrasi Jurnalistik
dan rupanya saya menikmatinya, walaupun dengan bumbu-bumbu sedikit keluhan.
Itulah
sebabnya saya mengikuti kata hati, kata hati tidak sesat karena ternyata saya
menikmati konsentrasi Jurnalistik, ya, menikmati karena saya respek dan
menggemari cara dosen-dosen Jurnalistik dalam mata kuliahnya, mulai dari cara
yang sentai hingga serius, dari mulai wawasan dasar hingga mendalam, dan dari
mulai hanya sekedar penjelasan hingga tugas yang menuras pikiran, tapi saya benar-benar
menikmatinya, jika ada keluhan dlam menjalaninya, itu adalah sebatas bumbu asin
atau pedas yang sewajarnya pada kondisi masakan, hampir mirip dengan kehidupan.
Saya percaya bahwa konsep hidup yang saya jalani tidak seinstan yang saya
pikirkan, begitu juga perjuangan saya untuk sebuah pencapaian dalam menjalani
pilihan pada pengambilan keputusan konsentrasi Jurnalistik tidaklah mudah,
proses pasti butuh waktu dan waktu lambat laun akan membuahkan hasil. Hasil
yang tentunya kejutan!
Seperti kata Einstein: “Saya tidak pernah memikirkan masa depan,
masa depan akan segera datang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar