Cari Blog Ini

Sabtu, 10 Desember 2011

Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pribahasa itu sering sekali kita dengar. Banyak orang mengartikan pribahasa itu adalah "kelakuan atau masa depan seorang anak tidak akan jauh dari orang tuanya". Namun saya kurang setuju peribahasa itu. Buah yang jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya, namun perjalanan "si buah" itu tidak hanya sampai disitu bukan? buah itu tidak akan hanya jatuh dan dibiarkan. Buah itu mungkin akan dibawa seseorang ke tempat lain yang lebih pantas, keranjang buah misalnya. dan kemudian biji dari buah itu mungkin akan ditanam kembali dan menjadi pohon yang berbeda dengan pohon sebelumnya dia berasal.

Makna Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh


Silih asih, silih asah, dan silih asuh merupakan pameo budaya Sunda. Ia menunjukan karakter yang khas dari budaya religious. Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.
Silih asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religious-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesame manusia. Dengan ungkapan lain, silih asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat silih asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun imperior, sebab menentang semangat ketuhanan dan kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau imperior merupakan praktek syirik-sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukan manusia sejajar dengan Tuhan, dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang imperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam msyarakat silih asih manusia didudukkan secara sejajar atau egaliter (Rakep dendeng papak sarua) satu sama lainnya. Prinsip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, kerjasama, dan sikap untuk senantiasa bertindak adil.
Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat Sunda teratur, dinamis, dan harmonis. Tradisi silih asih  sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat, sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab social.
Masyarakat silih asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan tekhnologi. Tradisi silih asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat religious merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain, sebab tanpa tradisi ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan semangat ilmiah, suatu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah tereksploitasi, tertindas, dan terjajah.
 Silih asah adalah semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri kea rah penguasaan dan penciptaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi sehingga masyarakat memiliki tingkat otonomi dan disiplin yang tinggi.
Dalam masyarakat Sunda yang silih asah, ilmu pengetahuan dan tekhnologi mendapat bimbingan etis sehingga ilmu pengetahuan dan tekhnologi tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggung, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi kritis, dan tanggung jawab.
        Masyarakat silih asuh memandang kepentingan kolektif maupun pribadi mendapat perhatian serius melalui saling control, tegur sapa, dan saling menasehati. Budaya silih asuh inilah yang kemudian memperkuat ikatan emosional yang telah dikembangkan dalam tradisi silih aih dan silih asah dalam masyarakat Sunda.
Oleh karena itu, dalam masyarakat Sunda sangat jarang terjadi konflik dan kericuhan, tetapi ketika ada kelompok lain yang mencoba mengusik ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak (simultan). Budaya silih asuh inilah yang merupakan manifestasi akhlak Tuhan Yang Maha Pembimbing dan Maha Menjaga. Hal inilah yang kemudian dilembagakan dalam silih amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silih asuh merupakan etos pembebasan dalam masyarakat Sunda dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup, dan segala bentuk kejahatan.
         Dengan demikian, busaya silih asih, silih asah, dan silih asuh tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui strategi budaya silih asih, silih asah, dan silih asuh, manusia modern akan dikembalikan citra dirinya sehingga akan terbatas dari kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis.

Mengenal Sunda Wiwitan


Dalam proses penyebara agama Islam di tatar Sunda, tidak seluruh wilayah Tatar Sunda menerima sepenuhnya. Di beberapa tempat –meski dalam lingkup kecil- terdapat komunitas yang bertahan dalam ajaran leluhurnya sepeti komunitas masyarakat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan terkungkung di satu wilayah religious yang khas, terpisah dari Muslim-Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.
            Dasar religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monotheis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan, yakni Sanghyang Keresa (Yang Mahakuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Ghaib) yang bersemayam di Buana Nyuncung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk mensejahterakan kehidupan diJagat Mahpar (dunia ramai). Dalam dimensi manusia sakti, Batara Tunggal  mempunyai keturunan tujuh orang batar yang dikirimkan ke dunia melalui kabuyutan, titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan.
            Dalam pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religious diwujudkan dalam berbagai upacara yang pada dasarnya mempunyai empat tujuan yaitu; 1. Menghormati para karuhun atau nenek moyang, 2. Mensucikan Pancer Bumi atau isi jagat dan dunia pada umumnya, 3. Menghormati dan menumbuhkan atau mengawinkan Dewi Padi, dan 4. Melaksanakan pikukuh Baduy untuk mensejahterakan isi jagat. Dengan demikian mantera-mantera yang diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.
             Masuknya agama Islam ke Tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas pengaut ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang kemudian menganut Islam. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan Padjajaran. Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan tegas mengakui bahwa perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar Kanekes hanyalah dalam system religi, bukan etnis. Mereka menyebut orang Sunda yang di luar Kanekes dengan sebutan Sunda-Eslam (orang Sunda yang beragama Islam).

Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas


Oleh Drs. REIZA D. DIENAPUTRA, M.Hum.

W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi.
Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial.
Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.
Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.
Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.
Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.
Daya hidup
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.
Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaanurang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?
Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.
Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.
Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.
Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urangSunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.
Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.
Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.
Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.
Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

Daya mati
Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.
Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapaurang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?
Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis olehurang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemenurang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urangSunda masih tetap terbilang rendah.
Menurut A. Chaedar Alwasilah (2003), setidaknya ada sebelas ayat sesat yang telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Pertama, anggapan bahwa literasi adalah kemampuan membaca. Kedua, anggapan bahwa mahasiswa tidak perlu diajari cara menulis. Ketiga, anggapan bahwa penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis. Keempat, anggapan bahwa tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar. Kelima, anggapan bahwa menulis dapat diajarkan manakala siswa telah menguasai tata bahasa. Keenam, anggapan bahwa karangan yang sulit dipahami memperlihatkan kehebatan penulisnya. Ketujuh, anggapan bahwa menulis hanya dapat diajarkan manakala siswa sudah dewasa. Kedelapan, anggapan bahwa menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya. Kesembilan, anggapan bahwa pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa. Kesepuluh, anggapan bahwa menulis mesti diajarkan lewat perkuliahan bahasa. Kesebelas, anggapan bahwa bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi (maha) siswa fakultas sastra.
Budaya lisan dalam kebudayaan Sunda sebenarnya merupakan budaya yang telah lama akrab dengan komunitas Sunda, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan budaya baca dan tulisan. Namun, budaya lisan dalam pengertian kapasitas untuk mengemukakan pendapat serta berjiwa besar dalam menghadapi pendapat yang berbeda masih merupakan barang yang masih amat sangat langka dalam Kebudayaan Sunda. Tradisi lisan Sunda tampaknya baru mampu menghargai komunikasi model monolog dan bukannya dialog. Akibatnya, kemampuan untuk menyampaikan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda dalam Kebudayaan Sunda merupakan barang yang teramat mewah. Padahal, kapasitas untuk mengemukakan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda ini menjadi salah satu dasar bagi munculnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan yang berkualitas. Kapasitas mengemukakan pendapat pada dasarnya merupakan representasi dari kemampuan bernafas dan mencerna, sementara kapasitas menerima dengan jiwa besar pendapat yang berbeda lebih merupakan representasi dari kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi.***

Penulis Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran serta Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Lintas Budaya Bandung

Apa itu Swastika?


Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.
Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.
 Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.
Budha mengambil swastika untuk menunjukkan identitas Arya.
Makna simbul Swastika adalah Catur Dharma yaitu empat macam tugas yang patut kita Dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum (selamat, bahagia dan sejahtra) yaitu:
 1. Dharma Kriya = Melaksanakan swadharma dengan tekun dan penuh rasa tanggung jawab
 2. Dharma Santosa = Berusaha mencari kedamaian lahir dan bathin pada diri sendiri.
 3. Dharma Jati=Tugas yang harus dilaksanakan untuk menjamin kesejahtraan dan ketenangan keluarga dan juga untuk umum
 4. Dharma Putus=Melaksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta rasa tanggung jawab demi terwujudnya keadilan social bagi umat manusia.
Makna yang lebih dalam yaitu Empat Tujuan Hidup yaitu Catur Purusartha / Catur Warga: Dharma, Kama, Artha, Moksa.
 1. Dharma = Kewajiban/kebenaran/hukum/Agama/Peraturan/Kodrat
 2. Artha = Harta benda / Materi
 3. Kama = Kesenangan / Hawa Nafsu
 4. Moksa = Kebebasan yang abadi
Swastika dalam berbagai bangsa
 Simbol ini, yang dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya Tetragammadion di Yunani atau Fylfot di Inggris, menempati posisi penting dalam kepercayaan maupun kebudayaan bangsa-bangsa kuno, seperti bangsa Troya, Hittite, Celtic serta Teutonic. Simbol ini dapat ditemukan pada kuil-kuil Hindu, Jaina dan Buddha maupun gereja-gereja Kristen (Gereja St. Sophia di Kiev, Ukrainia, Basilika St. Ambrose, Milan, serta Katedral Amiens, Prancis), mesjid-mesjid Islam ( di Ishafan, Iran dan Mesjid Taynal, Lebanon) serta sinagog Yahudi Ein Gedi di Yudea.

Swastika pernah (dan masih) mewakili hal-hal yang bersifat luhur dan sakral, terutama bagi pemeluk Hindu, Jaina, Buddha, pemeluk kepercayaan Gallic-Roman (yang altar utamanya berhiaskan petir, swastika dan roda), pemeluk kepercayaan Celtic kuna (swastika melambangkan Dewi Api Brigit), pemeluk kepercayaan Slavia kuno (swastika melambangkan Dewa Matahari Svarog) maupun bagi orang-orang Indian suku Hopi serta Navajo (yang menggunakan simbol itu dalam ritual penyembuhan). Jubah Athena serta tubuh Apollo, dewa dan dewi Yunani, juga kerap dihiasi dengan simbol tersebut.
Di pihak yang lain, Swastika juga menempati posisi sekuler sebagai semata-mata motif hiasan arsitektur maupun lambing entitas bisnis, mulai dari perusahaan bir hingga laundry.
Bahkan perusaha besar Microsoft menggunakan lambang swastika miring ke kanan 45 derajat, mungkin sebagai lambang keberuntungan. Karena sampai saat ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Dunia.
Bahkan, swastika juga pernah menjadi simbol dari sebuah kekejaman tak terperi saat Hitler menggunakannya sebagai perwakilan dari superioritas bangsa Arya. Jutaan orang Yahudi tewas di tangan para prajurit yang dengan bangga mengenakan lambang swastika (Swastika yang “sinistrovere”: miring ke kiri sekitar 45 derajat) di lengannya.
            Swastika sebagai lambang Dewa Ganesha (anak Shiva yang bermuka gajah), sebagai makna Catur Dharma.
Kata Krishna pada Arjuna di medan pertempuran .. ketika Arjuna harus berperang melawan saudaranya sendiri inilah yang salah ditapsirkan oleh Hitler yaitu “Lakukanlah apapun yang harus kau laukukan selama itu adalah tugasmu. Kau harus mengemban tugasmu dengan baik walaupun itu berarti harus membunuh (untuk kebaikan), karena melakukan tugasmu dengan baik adalah bentuk pengabdian pada Tuhan”
Hitler mungkin tertarik pada arti swastika makanya dia mengambil lambang swastika dan membaliknya, makanya dia bisa mambunuh dengan tanpa rasa bersalah. Karena dia berpikir apa yang diperbuatnya adalah apa yang benar. Dia berlindung dibawah Swastika yang arahnya terbalik, yang semestinya untuk makna Catur Dharma.

Asal Muasal Tari Linda

Alkisah Omputo (Raja Muna) sedang berburu. Diperkirakan di daerah Labora. Tanpa sengaja, Omputo menemukan para bidadari sedang bercengkerama di Pantai Labora yang menawan.

Ia memerhatikan para bidadari menaruh selendangnya di dahan dan ranting sebuah pohon. Dengan sengaja ia mengambil salah satu selendang secara diam-diam dan lalu sembunyi menunggu dari balik kerimbunan.

Senja meninggalkan semburat jingga di ufuk barat. Para bidadari mengakhirkan senda guraunya hari itu. Tapi salah satu diantara mereka tidak bisa ikut terbang karena tidak bertemu selendangnya. Keburu malam, peri malang itu ditinggal seorang diri.



Omputo menyeruak dari balik rerimbunan dan mengajaknya pulang. Sang Bidadari menolak dengan penjelasan bahwa dirinya bukan seperti manusia, ia makhluk yang berbeda dari dunia kahyangan dan memiliki banyak pemali.

Tapi Omputon bersikukuh bidadari itu harus diboyong. Tanpa selendang, sang Bidadari hanya bisa pasrah. Ia pun diajak ke palaminan.

Bidadari selanjutnya diberinama Wa Ode Fari. Ia bersedia diperisteri dengan satu syarat yaitu tidak boleh membuka penanak nasi ketika dirinya sedang memasak. Omputo tidak masalah.

Hari berganti, musim berubah. Mereka kemudian dikaruniai seorang putri . Dua tahun berlalu, ada masa panen, ada masa panceklik. Disaat orang lain mulai mengeluhkan kehabisan stok beras di lumbung, lumbung Omputo masih berlimpah. Omputo bingung.

Teringat larangan isterinya pantang membuka penanak nasi, Omputo kembali tergugah penasaran. Ia merasa ada misteri dibalik kelakuan isterinya. Rasa ingin tahunya kali ini sangat besar.

Suatu saat isterinya pergi mencuci usai mendudukan periuk nasi di tungku, ia nekad melanggar pantangan siterinya. Ia membuka penutup panci dan terkejut sebab di dalam periuk hanya berisi satu butir beras. Setelah mendidih, periuk secara ajaib penuh berisi nasi.

Keesokan harinya, Wa Ode Fari yang tidak tahu kejadian itu pergi ke dapur hendak menanak nasi. Ia menuang sebutir beras lalu menunggunya hingga matang. Tapi betapa terkejut setelah matang periuk tidak penuh seperti biasanya. Ia sadar, suaminya telah melanggar pantangan.

Sejak terbongkarnya rahasia itu, Wa Ode Fari kehilangan kesaktian. Dan semenja itu Wa Ode Fari harus menumbuk padi seperti layaknya manusia. Hari demi hari stok beras di lumbung terus berkurang. Pasokan padi di lumbung semakin tipis.

Suatu pagi ketika Fari seperti biasa hendak mengangkat padi terakhir untuk ditumbuk, ia menemukan selendang di dasar lumbung, yang bertahun-tahun hilang darinya. Ia gembira sekaligus sedih. Meninggalkan seorang anak dan sumi yang perlahan-lahan mulai dicintainya. Ia mulai merasakan keindahan menjadi manusia saat anaknya bermanja-manja penuh kemesraan.

Tapi bagaimanapun, dunianya bukan disini. Maka ia berpamitan pada anak dan suaminya lalu terbang dengan sebongkah air mata berurai bertebaran di udara menjadi rintik hujan. Dibawah kelam langit ditengah rinai hujan, anak dan suaminya menatap pilu kepergian itu dengan kesedihan mendalam.

Omputo mengakui kelalaiannya namun terlambat menyadari mengapa tidak mematuhi pesan isterinya. Perpisahan seperti hari itu tidak pernah dibayangkan bakal terjadi.
Konon sebelum beranjak terbang ke kahyangan, Wa Ode Fari sempat menari sambil mendendangkan nasihat dan petuah untuk anaknya dari udara.

Sepeninggal ibunya, sang anak merasakan perbedaan yang mendalam. Ia kehilangan belai manja ibunya. Bagaimanapun berbeda sentuhan ibu dibanding ayah, terutama bagi jiwa kecil seorang anak berusia dua tahun.

Dan itu membuat sang anak merindu. Ia sering tampak termenung sendiri. Di bawah pohon tempat terakhir dibunya masih terlihat. Ia masih mampu mengenang semuanya secara detail.

Suatu hari di siang bolong yang terik. Sang anak tak lagi merasakan teriknya matahari, rindu yang membakar lebih panas dari matahari di kepalanya. Di sana, dibawah pohon kenangan, sang anak tiba-tiba mengayunkan tubuhnya, meliuk-liuk, seperti gerak ibunya saat terakhir.

Ia menari, menarikan tarian ibunya dari mula hingga akhir, tiada yang terlewatkan. Teman bermain yang menyaksikan belum pernah melihat tarian seindah itu. Takjub dan terpana, mereka hanya bisa bergerombol sambil terlongo. Sambil menari, sang anak mendendangkan lagu ibunya. “Dio Lakadandio, dandio lakadandio……..”

Konon itulah asal muasal tari Linda dan nyaniannya. Tarian yang tidak pernah diketahui siapa penciptanya, dan lagu yang tidak pernah diketahui artinya. Belum ada yang mampu menerjemahkan bait nyanyian itu hingga kini.

Jumat, 09 Desember 2011

Ciri-Ciri Berpikir Filsafat

Filsafat diidentikan dengan berpikir kritis dan mendalam, berpikir sampai ke akar-akarnya. Filsafat juga melibatkan cara berpikir yang sistematik dan terbuka bagi alam semesta. Lebih jelasnya, berikut adalah ciri-ciri berpikir filsafat :
  • Radikal, artinya berpikir sampai ke akar persoalan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara terus bertanya hingga mendapat suatu jawaban yang lebih hakiki. Juga, menghubungkan suatu konsep atau gagasan dengan yang lainnya, menanyakan "mengapa?" dan mencari jawaban yang lebih baik dibanding dengan jawaban yang sudah tersedia pada pandangan pertama. Pandangan itu bisa dibongkar sampai ke akarnya jika kita mampu membongkar sejumlah asumsi-asumsi sampai menemukan apa landasan filsafatnya.
  • Kritis, artinya tanggap terhadap persoalan yang berkembang dan yangdiketahuinya atau bahkan mendatanginya. Dalam bukunya yang berjudul Beyond Feelings : A Guide to Critical Thinking, Vincent Ryan Ruggiero mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dasar yang terlibat dalam pemikiran kritis, yaitu : melakukan tindakan untuk mengumpulkan bukti-bukti, menggunakan otak bukan perasaan (berpikir logis), skeptis atau rasa ragu karana adanya kebutuhan atas bukti artinya tidak percaya begitu saja sebelum menemukan bukti yang kuat.
  • Konseptual atau Konsepsional, artinya konstruksi pemikiran filsafat berusaha untuk menyusun suatu bagan yang konsepsional dalam arti bahwa konsepsi (rencana kerja) merupakan suatu hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu.
  • Rasional, artinya berpikir dengan menggunakan akal (masuk akal).
  • Reflektif, yaitu mencerminkan pengalam pribadi. Artinya, filsafat dihasilkan dari proses perenungan tarhadap diri dengan dunia, mengevaluasi cara pandang diri dikaitkan dengan pandangan-pandangan dan realitas baru yang dialami dan didapat.
  • Koheren dan Konsisten (runtut), yaitu bahwa perenungan pemikiran fisafat berusaha untuk menyusun suatu bagan yang koheren, yang konsepsional.
  • Komprehensif dan Sistematis, artinya bahwa pemikiran fisafat itu berusaha menyusun suatu gagasan konsepsional yang memadai untuk dunia tempat kita hidup maupun diri kita.
  • Suatu Pandangan Dunia, yaitu bahwa fisafat berusaha memahami seluruh kenyataan dengan menyusun suatu pandangan dunia (Weltanschauung) yang memberikan penjelasan tantang dunia dan semua hal yang ada di dalamnya.
  • Metodis, yaitu bahwa pemikiran filsafat diperoleh dengan suatu metode atau cara agar didapatkan kebenaran yang akan membuat manusia mampu menilai hidup dan mengambil keputusan secara tepat dan berpandangan tidak parsial.


Semoga bermanfaat...
                 

Pilihan, Keputusan, dan Kejutan


Oleh Wina Maynurjanah


Hidup adalah Sebuah Pilihan, sepaket kalimat pendek itu agaknya sudah cukup populer dalam perjalanan kehidupan beberapa atau banyak orang, termasuk saya, kalimat itu mutlak berlaku pada runtutan kehidupan saya, saya sepakat dengan tiga kata tersebut karena totalitas saya dalam menjalani hidup tentunya dihadapkan dalam berbagai pilihan, dan tentunya berbagai pilihan itu tak semuanya menyenangkan atau menyedihkan, hal itu terlihat seimbang, namun terkait bagaimana saya menyikapi pilihan yang beraneka ragam tersebut, sebuah pertimbangan yang membuahkan keputusanpun harus segera diambil dan dilakukan karena hidup bukan untuk menunggu menurut saya mah.  Jadi spontanitas harus segera dilakukan karena saya, menurut saya pribadi adalah orang yang instan dan praktis, dan alhasil dengan memutuskan suatu pilihan dalam satu kondisi kadang menghasilkan beberapa kejutan instan pula.

Hal milih memilih terjadi juga pada sisi akademis yang saya tempuh dalam jurusan Sastra Inggris di Universitas Pasundan ini, pada tahun ketiga saya menjalani perkuiahan, lembaga jurusan menyediakan tiga konsentrasi untuk tingkat selanjutnya, yakni Pengajaran, Pariwisata dan Jurnalistik, tiga konsentrasi ini cukup membuat saya bingung, tapi deskripsi yang otak saya buat terhadap tiga konsentrasi itu membuahkan kesimpulan bahwa saya harus menjalani salah satunya, sejauh itu tetap bingung lalu saya tanya pada hati saya, dan jawabannya adalah Jurnalistik, ya, Jurnalistik, jika ada yang bertanya mengapa saya menyetujui kata hati saya untuk mengambil Jurnalistik, jawabannya adalah saya selalu mempercayai apapun kata hati saya, dan otak sayapun akhirnya ikut menyetujui pendapat hati hingga saya benar-benar memantapkan pilihan dan punya argumen yang cukup instan yang berasal dari argumentasi otak dan hati yang disalurkan melalui lisan maupun lisan yang tentunya untuk menjelaskan beberapa alasan saya memasuki kawasan Jurnalistik.
Jurnalistik bagi saya unik, itulah alasan pertama saya, unik karena mempunyai sisi sejarah yang antik, lalu alasan yang lain adalah saya ingin bereksplorasi dalam dunia sastra lewat jurnalistik, entah bagaimana caranya, itu terserah hidup yang akan menghidangkan pilihan-pilihan berikutnya pada saya yang pada akhirnya kejutan akan datang, lalu ada hal yang menarik dalam bidang jurnalistik, yaitu menuntut kita mengenal kondisi secara intens dan menuntut kita menjadi orang yang aktif dan kritis yang tentunya dengan wawasan luas dan kita kuasai, tidak hanya omong-omongan belaka, tapi ada implementasinya, yakni bukti, itu sekilas pandangan saya mengenai ajang pemantapan dan argumentasi saya dalam menjalani pilihan yang saya ambil dan putuskan, yaitu mengambil konsentrasi Jurnalistik dan rupanya saya menikmatinya, walaupun dengan bumbu-bumbu sedikit keluhan.
Itulah sebabnya saya mengikuti kata hati, kata hati tidak sesat karena ternyata saya menikmati konsentrasi Jurnalistik, ya, menikmati karena saya respek dan menggemari cara dosen-dosen Jurnalistik dalam mata kuliahnya, mulai dari cara yang sentai hingga serius, dari mulai wawasan dasar hingga mendalam, dan dari mulai hanya sekedar penjelasan hingga tugas yang menuras pikiran, tapi saya benar-benar menikmatinya, jika ada keluhan dlam menjalaninya, itu adalah sebatas bumbu asin atau pedas yang sewajarnya pada kondisi masakan, hampir mirip dengan kehidupan. Saya percaya bahwa konsep hidup yang saya jalani tidak seinstan yang saya pikirkan, begitu juga perjuangan saya untuk sebuah pencapaian dalam menjalani pilihan pada pengambilan keputusan konsentrasi Jurnalistik tidaklah mudah, proses pasti butuh waktu dan waktu lambat laun akan membuahkan hasil. Hasil yang tentunya kejutan!
Seperti kata Einstein: “Saya tidak pernah memikirkan masa depan, masa depan akan segera datang.”

Untuk Spongebob Squarepants


Oleh Wina Maynurjanah


Berwarna kuning, rumah nanas dan bercelana kotak merupakan ciri yang sangat khas untuk seorang tokoh kartun yang bernama Spongebob Squarepants. Selain berjiwa besar, Spongebob Squarepants mempunyai sifat pemurah dan sangat loyal kepada sahabatnya, Patrick Star. Saya benar-benar respek pada acara ini, tokoh masing-masing mempunyai karakter yang sangat kuat dan tidak membosankan, selain itu setting atau latar yang diambil dalam kehidupan masyarakat Bikini Bottom adalah laut, saya pikir itu ide yang unik, saya menyukai gaya hidup orang-orang di Bikini bottom, mereka hidup dibawah keadilan, saya benar-benar menikmati kehidupan yang diciptakan oleh  Stephen Hillenburg, si pembuat Spongebob Squarepants.
Terkait dengan kesukaan saya terhadap kartun ini adalah dihubungkan dengan gaya bahasa mereka yang tidak monothon, juga konflik-konflik yang terjadi pada setiap tokohnya, walaupun setiap episode beda cerita, namun konflik salah satu tokohnya tetap bersambung. lebih sempitnya tokoh utama dalam acara ini hanya ada enam dengan karakter kuat yang berbeda pula, yakni Spongebob Squarepants yang berjiwa besar, Patrick Star si bintang polos dan bisa menikmati hidup dengan caranya sendiri, Squidwood sang perfeksionis tragis, Sandy Chick si jenius dari texas, Iyujin Crab yang luar biasa pelit dan terakhir Plankton si otak licik demi obsesi resep rahasia. 

Meskipun tokoh utamanya berjumlah enam, Hillenburg tidak melupakan pemeran tokoh pembantu yang kemudian dilibatkan dalam beberapa episode, yakni Mrs. Puff guru pengemudi kapal, dan Pearl si manja puteri Mr. Krab. Spongebob Squarepant serial yang menghibur dengan cerita yang rapi dan disuguhkan secara menarik hingga membuat penggemar setia acara ini tetap mengidolakan karyanya.
Ya, Menghibur, selalu bereksplorasi dan unik. 

Kamis, 08 Desember 2011

Sisi Lain Bir (Beer)


oleh Wina Maynurjanah
Bir, minuman beralkohol yang kiranya telah dikenal cukup populer dalam semua kalangan. Bir dapat diartikan sebagai minuman beralkohol yang berisi karbondioksida, dan dibuat dari  Barley (semacam gandum yang dipakai untuk membuat bir), Hops (tanaman yang menjalar), gula, air  dan diragikan dengan Yeast serta ditambahkan dengan Finings, agar bir menjadi jernih. Kandungan alkohol bir berkisar antara 4% sampai 6% maksimum 9%. Bir mengandung gula dan bahan utamanya adalah air.
            Bir dibuat pertama kali oleh orang mesir pada abad ke 17 sebelum masehi (lebih dari 2600 tahun yang lalu). Pada abad pertengahan, bir dibuat disuatu tempat dimana para biarawan tinggal. Perusahaan bir yang pertama kali dibuka terdapat di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1637. Proses pembuatan bir dinamakan Brewing. Beer hampir dihasilkan oleh setiap negara diseluruh dunia, beer yang paling populer dan biasa dihidangkan di restoran maupun bar adalah:
No.
Negara asal
Labels (Merek)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Australia
China
Cechoslovakia
Denmark
England
France
Germany
Holland
Indonesia
Jepang
Philippines
Sweden
Switzerland
U.S.A
Foster Lager, Swan Lager,
Pu Tao                      
Budweisser, Pilsener Urquel
Carlsborg, Tuborg
Bass, Guinness, Worthington
Kronenburg, Slavia
Beck’s, Dortminder, Lowenbrau
Amstel, Heineken, Skol
Anker, Bintang, San Miguel
Asahi, Santoro Kirin
San Miguel
Skol
Cardinal, Gurten, Muller
Michelob, Schlitz

           








Bir mungkin lebih banyak mengundang kesan miring daripada lurus. bagi beberapa kalangan masyarakat memungkinkan untuk berasumsi bahwa bir adalah bukan minuman yang baik karena kebanyakan pengkonsumsi yang tidak bertanggung jawab tidak mengontrol diri ketika dirinya berlebihan dalam mengkonsumsi bir, padahal jika bir diminum sesuai porsi dan kebutuhan efeknya tidak buruk, kesan miring terhadap bir mungkin telah melekat pada masyarakat luas dimulai dari kawasan yang kita sebut kampung hingga kawasan ibu kota pun pastilah tau identitas minuman beralkohol ini, namun minuman alkohol ringan ini sebenarnya menyimpan manfaat untuk kesehatan, kurang lebih, inilah manfaat mengkonsumsi bir sesuai kebutuhan dan tentunya pada porsi yang ideal:
1.                   Mengurangi Resiko Jantung
                        Sejumlah studi, diantaranya Institute of Epidemiology di University of Muenster, menemukan, bahwa meminum bir dalam jumlah moderat mengurangi resiko terkena penyakit jantung koroner. Alasannya sederhana, alkohol dapat meningkatkan HDL atau kolesterol baik yang berguna merawat jantung.
2.                   Kaya Vitamin
                        Berdasarkan penelitian TNO Nutrition and Food Research Institute, Jerman, peminum setia bir meningkatkan 30 persen kadar vitamin B6 lebih banyak dalam tubuh, dibanding mereka yang tidak minum bir, atau dua kali lebih banyak dari peminum anggur merah.
3.                   Menghindari Resiko Batu Ginjal
                        Lagi-lagi penelitian yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology menyebutkan resiko orang paruh baya yang gemar minum bir terkena batu ginjal menurun sebanyak 40 persen, dibanding mereka yang tidak minum sama sekali. Belum dapat ditemukan memang, komponen mana yang menyebabkan bir menjadi sakti untuk menangkal batu ginjal, tapi penemuan ini jelas menguntungkan.

4.         Teman Baik Wanita Paruh Baya
                        Studi dari Harvard menemukan wanita paruh baya yang rajin mimun bir terbukti memiliki fungsi mental yang lebih baik, dan tulang lebih padat. Hal ini karena bir mengandung semacam zat yang mirip dengan esterogen, hormon wanita yang berkurang seiring usia.
5.         Mencegah Kanker
                        Senyawa Xanthohumol dalam bir terbukti dapat menghambat sel kanker berkembang dalam tubuh. Karena itu konsumsi bir tidak berlebihan sama saja dengan memasukkan anti bodi kanker.
                        Ini adalah satu bukti bahwa asumsi masyarakat tidak bisa dijadikan patokan  mutlak terhadap satu atau berbagai objek dan kasus, hal ini mengingatkan kita bahwa untuk sebuah pencapaian sebuah pengetahuan adalah salah satu hal penting dalam hidup, sebagi contoh adalah mengenai sisi lain bir, mungkin sudah banyak yang mengetahui fakta bahwa bir juga mempunyai sisi baik dan manfaat bagi kesehetan namun bukan berarti hanya sedikit orang yang tidak mengetahui fakta ini, bisa diperkirakan bahwa memang mengkonsumsi makanan atau minuman pada porsi yang ideal merupakan hal atau kebiasaan yang baik, seperti mengkonsumsi bir, apabila ada beberapa orang yang mengkonsumsi bir pada kondisi yang tidak tepat bahkan terlalu berlebihan dan pada akhirnya menimbulkan efek negatif terhadap kesehatannya hingga menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, menurut saya itu bukan salah industri produksinya.
                        Maka diharapkan bagi para pengkonsumsi bir yang masih dalam koridor yang tepat dan merasakan efek positif bagi kesehatan tubuhnya, bertahanlah karena ada beberapa manfaat yang baik dalam mengkonsumsi bir, namun tentu sebaliknya jika ada beberapa yang merasa berlebihan dalam kadar pengkonsumsian bir, sebaiknya belajar untuk menekuni meminum bir pada porsi dan keadaan yang tepat agar tidak mendatangkan efek yang kurang baik bagi kesehatan maupun kelangsungan hidup.